Iklan

Sunday, 2 September 2012

Pengertian Transfer


Apakah Transfer itu ?
Transfer terjadi ketika seseorang mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi baru (Gentile, 2000; Mayer & Wittrock, 1996). Jadi, apabila seorang murid belajar satu konsep matematika dan kemudian menggunakan konsep ini untukmemecahkan problem sains, maka dia telah melakukan transfer. Transfer juga terjadi apabila murid membaca dan mempelajari konsep keadilan di sekolah dan kemudian memperlakukan orang lain di luar sekolah secara lebih adil. Mengajarkan transfer akan membantu murid membuat hubungan antara apa yang mereka pelajari di sekolah dengan cara mengaplikasikannya di luar sekolah.
Tipe-tipe transfer
Transfer dapat dikarakteristikkan sebagai transfer dekat atau jauh dan juga sebagai transfer jalu rendah dan jalur tinggi (Schunk, 2000).
Transfer dekat atau jauh. Transfer dekat terjadi ketika situasinya sama. Jika situasi belajar di kelas sama dengan situasi di mana pembelajaran sebelumnya terjadi, maka ini disebut transfer dekat. Misalnya, jika guru geometri mengajar murid cara membuktikan suatu konsep secara logis, dan kemudian menguji logika murid dalamsetting yang sma dengan setting saat mereka mempelajari konsep itu, maka ini dinamakan transfer dekat. Contoh lainnya adalah ketika murid belajar mengetik di mesin ketik kemudian menggunakan kemampuannya untuk mengetik keyboard komputer.
Transfer jauh berarti transfer pembelajaran ke situasi yang sangat berbeda dari situasi pembelajaran sebelumnya. Misalnya, apabila murid mendapat tugas paruh waktu diperusahaan arsitektur dan mengaplikasikan apa yang dipelajarinya di pelajaran geometri di sekolah untuk membantu arsitek menganalisis problem spasial yang sangat berbeda dengan apa yang murid temui di pelajaran geometri di sekolah, maka di sini terjadi transfer jauh.
Transfer jalur rendah dan jalur tinggi. Gabriel Salomon dan David Perkins (1989) membedakan transfer jalur rendah dan jalur tinggi. Transfer jalur rendah (low road) terjadi ketika pengetahuan sebelumnya secara otomatis, dan biasanya secara tak sadar, ditransfer ke situasi yang lain. Ini sering terjadi dalam keahlian yang sering dipaktikkan di mana tidak dibutuhkan pemikiran reflektif. Misalnya, ketika seorang pembaca yang kompeten menemui kalimat baru dalam bahasa ibu mereka, mereka bisa membacanya secara otomatis.
Sebaliknya, transfer jalur tinggi (high road) adalah transfer yang dilakukan dengan banyak usaha dan secara sadar. Murid secara sadar membangun hubungan antara apa yang kini mereka pelajari dalam situsi sebelumnya dengan situasi baru yang kini mereka hadapi. Transfer jalur tinggi dilakukandengan penuh kesadaran, yakni murid harus menyadari apa yang mereka lakukan dan memikirkan hubungan antarkonteks. Transfer jalur tinggi mengimplikasikan abstraksi kaidah atau prinsip umum dari pengalaman sebelumnya dan kemudian menerapkannya ke problem baru dalam konteks baru. Misalnya, murid mungkin belajar tentang konsep subgoaling (menentukan tujuan perantara) di kelas matematika. Beberapa bulan kemudian seorang murid memikirkan bagiamana subgoaling bisa membantunya menyelesaikan tugas pekerjaan rumah yang panjang dipelajaran sejarah. Ini adalah transfer jalur tinggi.
Salomon dan Perkins (1989) membagi transfer jalur tinggi menjadi transfer menjangkau ke depan (forward-reaching) dan transfer menjangkau kebelakang (backward-reaching). Transfer menjangkau kedepan  terjadi ketika murid memikirkan tentang cara mereka mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari pada situasi yang baru (dari situasi sekarang, mereka melihat “ke depan” untuk mengaplikasikan informasi ke situasi baru di depan). Agar transfer menjangkau ke depan terjadi, murid harus mengetahui sesuatu tentang situasi dimana mereka akan mentransfer pembelajaran. Transfer menjangkau ke belakang terjadi ketika murid melihat ke situasi sebelumnya (situasi “lama”) untukmencari informasi yang akan membantu mereka memecahkan problem dalam konteks baru.
Untukmemahami dengan lebihbaik dua tipe transfer jalur tinggi ini, bayangkan seorang murid di keals bahasa Inggris. Dia baru saja mempelajari suatu strategi menulis untukmembuat kalimat dan paragraph menjadi menarik dan “hidup”. Murid itu mulai memikirkan bagaimana dia dapat menggunakan strategi itu untukmenarikpembaca tahun depan, dimana dia sudah merencanakan akan menjadi penulis untuk Koran sekolah. Ini adalah transfer menjangkau ke depan. Sekarang misalnya seorangmurid bertugas untuk pertama kalinya sebagai editor Koran sekolah. Dia mencoba memahami cara menyusun tata letak halaman. Dia berpikir sebentar,dan memikirkan tentang beberapa pelajaran geografi dan geometri yang eprnah dipelajarinya. Dia mengambil pengalaman masa lalu sebagai masukan untukmenyusun tata letak Koran sekolah. Ini adalah transfer menjangkau ke belakang.
Praktik cultural mungkin memengaruhi seberapa sulit dan mudahkah transfer itu. Kotak diversity and Education mengeksplorasi topic ini.
Salah satu model untuk strategi mengajar yang menghasilkan generalisasi dikembangkan oleh Gary Phye (1990; Phye & Sanders, 1994). Dia mendeskripsikan  tiga fase untuk meningkatkan transfer. Dalam fase akuisisi awal, murid tak hanya diberi informasi tentang pentingnya strategi dan cra menggunakannya, tetapi juga diberi kesempatan untuk berlatih menggunakanna. Dalam fase kedua yang disebut retensi, murid mendapat lebih banyak latihan menggunakan strategi dan mereka mengingat kembali cara menggunakan strategi itu sampai lancer. Dalam fase ketiga, transfer, murid diberi problem baru untuk dipecahkan. Problem ini membuat mereka harus menggunakan strategi yang sama, tetapi problemnya tampak berbeda. Phye juga percaya bahwa motivasi adalah aspek penting dari tampak berbeda. Phye juga percaya bahwa motivasi adalah aspek penting dari transfer. Dia merekomendasikan agar guru meningkatkan motivasi murid dengan menunjukkan contoh cara menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Diversity & Education
Transfer dan Praktik Kultural
Pengetahuan sebelumnya adalah pengetahuan yang memcakup jenis pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman cultural, seperti pengetahuan yang bersangkut paut dengan status etnis, sosioekonomi, dan gender (National Research Council, 1999). Dalam beberapa kasus, pengetahuan cultural ini dapat membantu pembelajaran anak dan memfasilitasi transfer namun dalam kasus lainnya pengetahuan ini bisa jadi menghambat (Greenfield & Suzuki, 1998).
Bagi anak dari beberapa latar belakang, hanya ada sedikit sekali kesesuaian atau transfer antara apa yang mereka pelajari di komunitas rumah dan apa yang diajarkan di sekolah. Mislnya keterampilan bercerita. Anak Euro-Amerika menggunakan gaya linier yang mirip  dengan gaya penjelasan linier penulisan dan pidato yang diajarkan di kebanyakan sekolah (Lee & Slaughter- Defoe, 1995). Ini bisa jadi berupa penceritaan serangkaian kejadian dari urutan kronologis yang kaku. Sebaliknya, dalam beberapa kelompok etnis seperti kepulauan  Asia Pasifik atau Suku Indian Amerika mereka biasaya menggunakan gaya bahas nonlinier, holistic sirkuler saat menceritakan suatu peristiwa. Guru dari latar belakang Euro-Amerika mungkin akan menganggap gaya ini acak-acakan (Clark, 1993). Juga, dikalangan anak-anak Afrika-Amerika,mereka biasanya bercerita dengan gaya nonlinier (Michaels, 1986).
Metode argumentasi dalam mendukung keyakinan tertentu juga berbeda dari satu kultur  ke kultur yang lain. Pembicara Cina lebih suka menggunakan format penyajian bukti pendukung dahulu, kemudian disusul maksud atau klaim utama (berbeda dengan gaya yang menggunakan kalimat topic utama dahulu kemudian disusul dengan detail pendukung). Pendukung non-Cina terkadang menilai gaya ii sebgai gaya “bersusah payah” (Tsang, 1989).
Guru sebaiknya tidak memandang variasi gaya komunikasi itu sebagai gaya yang kacau ataulebih buruk ketimbang gaya Euro-Amerika, tetapi guru lebih baik peka terhadap variasi itu dan menyadari perbedaan kulturalnya. Ini terutama penting di sekolah dasar saat murid sedang menjalani transisi dari lingkungan rumah ke lingkungan sekolah.


Through the Eyes of Teachers
Menghubungkan murid dengan komunitas untuk memberi konteks pada apa yang mereka pelajari
Myron Blosser adalah guru biologi dan guru kehormatan di Harrisonburg (Virginia) High School. Dia adalah pelopor dalam pembentukan Coast to Coast ’98, sebuah departemen sains di mana 22 murid dan 8 guru menghabiskan waktu 31 hari keliling taman-taman nasional dengan menggunakan laboratorium berjalan untuk mempelajari sejarah air. Dia bekerja di Coast to Coast 2000. Dia mengoordinasikan symposium bioteknologi setiap tahun yang menghadirkan ilmuwan terkemuka dan murid-murid sekolah menengah di seluruh daerah Shenandoah Valley di Virginia, Myron menyebut perannya sebagai penghubung murid dengan komunitas untuk memberi konteks pada apa yang mereka pelajari.
Myron Blosser,
Guru di Harrinsonburg High School

No comments: